Kisah Berburu Nganu dan Sepeda Legend Part. 3

Assalaamu’alaikum Warohmatullaahi Wabarokaatuh,

Kepada yang terhormat Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya pembaca yang budiman. Di kesempatan kali ini saya akan melanjutkan sambungan cerita pribadi masa lalu saya yang berjudul ‘Kisah Berburu dan Sepeda Legend’ yang sempat terputus, tersambung, dan terputus lagi.

Semoga Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya pembaca sekalian tidak terlalu terpesona dengan kelanjutan cerita ini. Karena kali ini adalah part yang terakhir dan merupakan edisi spesial  dalam ‘Kisah Berburu dan Sepeda Legend’.

Berikut ini kelanjutan ceritanya,

Setelah rombongan kami melakukan perjalan dengan mengayuh sepeda, dan melewati berbagai macam medan yang cukup menantang. Maka sampailah kami di ujung utara Gunung Piting. Di sana biasanya terdapat banyak sepeda, dan sepeda motor yang diparkirkan oleh para petani.

Tempat itu adalah batas akhir jalan menuju ke arah pantai. Biasanya para petani akan meninggalkan kendaraannya di sana. Dari tempat itu, mereka akan berjalan kaki menuju sawah atau hutan yang mereka garap masing-masing.

Rel yang Puanjang

Tepat di utara gunung Piting, membujur panjang rel kereta api dua jalur dari arah barat menuju ke utara. rel kereta tersebut adalah jalur kereta api utama, di bagian utara pulau Jawa.

Jalur kereta api tersebut merupakan jalur yang menghubungkan antara 4 provinsi, diantaranya provinsi Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Jalur kereta api hanya berjarak sekitar 300-400 m dari laut.

Setelah memarkirkan sepeda, kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Kami menyeberangi rel kereta api dengan menenteng ceting-ceting kami. Setelah itu kami kembali melewati jalan setapak di tengah persawahan.

Jalan setapak tampak sudah mulai berpasir, menandakan bahwa kami sudah dekat dengan lautan. Dan mulai tampak pula hamparan laut di depan mata kami. Letak sungai yang kami tuju, berada tepat di pantai pinggir laut.  Tetapi kami harus berjalan lagi menyusuri pantai ke arah barat.

Sebut saja ‘Journey to The West’.

Srintil Oh Srintil

Di sepanjang pantai, kami menjumpai beberapa kepiting yang dapat berlari dengan kencang. Di daerah kami, kepiting yang juga suka membuat lubang di dalam pasir tersebut dinamakan Srintil. Hewan bercangkang ini berwarna abu-abu gelap dengan bentuk yang lebih ramping dibandingkan kepiting pada umumnya.

Ukurannya yang lebih kecil membuat hewan invertebrata ini sangat gesit dalam bergerak. Kami seringkali kesulitan untuk menangkapnya. Ketika kami berusaha mengejar mereka. Biasanya mereka akan berlari ke arah laut, dan kemudian menghilang di balik hempasan ombak.

Apabila mereka jauh dari laut, maka mereka akan berlari masuk ke dalam lubang-lubang tempat mereka bersembunyi. Di masa kecil, pekerjaan kami mengejar srintil adalah pekerjaan yang mengasyikkan sekaligus menjengkelkan.

Ubur-ubur yang Horor

Di pasir pantai juga terkadang di jumpai pula ubur-ubur yang tengah terdampar. Biasanya ubur-ubur tersebut sudah mati. Ubur-ubur adalah salah satu hewan laut yang cukup di takuti di daerah kami. Karena warnanya yang transparan, tetapi mempunyai tentakel dengan sengatan beracun yang dapat membahayakan manusia.

Terutama ubur-ubur yang berwarna merah. Dahulu pernah ada seorang penduduk kampung yang terkena sengatan tentakel dari ubur-ubur merah. Orang tersebut akhirnya harus mendapakan perawatan yang serius dari dokter karena racun dari ubur-ubur yang telanjur menyebar ke sekujur tubuh.

Tetapi alhamdulillah nyawanya masih bisa tertolong dengan penanganan medis yang tepat. Nah, oleh karena itu, untuk kamu yang suka main di pantai. Lebih baik kamu harus lebih berhati-hati ya. Apabila ingin berenang di sana. Pastikan tempat kalian berenang benar-benar sudah terbebas dari jangkauan ubur-ubur.

Mari kita lanjutkan perjalanan ke tempat perburuannya.

Setelah berjalan kaki menyusuri pantai ke arah barat sekitar 5 menit perjalanan. Sampailah kami di sungai kecil yang langsung bermuara ke Laut Jawa. Sungai tersebut tidak terlalu besar, hanya sekitar 3 sampai 5 meter lebarnya. Dan kedalaman maksimalnya sekitar 1,5 meter.

Teknik Perburuan Tingkat Tinggi

Di sana kami mulai mengeluarkan senjata utama kami yaitu ceting. Ceting tersebut kami pegang dengan dua tangan, kemudian kami mulai memasukkannya ke dalam air. Posisi kami berjajar, kemudian berjalan maju menggerakkan ceting ke arah pinggir sungai secara berjamaah.

Kami berusaha menggiring ikan-ikan yang berlalu-lalang di dalam sungai untuk bergerak ke arah tepi sungai. Secara otomatis ikan-ikan akan mulai tersudut dan tidak dapat melepaskan diri. Nah, ketika sudah mulai terasa ada pergerakan ikan di dalam ceting, maka kami segera mengangkat ceting keluar dari air.

Nah begitulah kurang lebihnya metode perburuan dengan cara profesional yang kami lakukan.

Ikan Buruan Komoditas Utama

Karena tercampur dengan air laut, maka sungai tersebut termasuk ke dalam sungai yang berair payau. Beberapa ikan yang hidup pada air payau antara lain:

  1. ikan Nila

    sumber: ichastore.com
  2. ikan Mujahir

    sumber: toelank.wordpress.com
  3. ikan Sepat

    sumber: tips-ukm.com
  4. Ikan Keting

    sumber: mangyono.com
  5. Ikan Jambrung

    sumber: kangtain.blogspot.co.id
  6. Ikan Bandeng

    sumber: tribunnews.com
  7. Ikan Kakap Putih atau Pelak

    sumber: akamenokuni.com

Tragedi Capitan Maut

Ketika kami sedang asyik-asyiknya berburu ikan menggunakan ceting, tiba-tiba salah satu teman saya berteriak dengan keras. Sontak kami-pun terkejut dan langsung mendekatinya untuk mengetahui apa yang terjadi sebenarnya.

Ketika itu dia mengangkat tangan kanannya seraya meringis kesakitan, dijarinya terdapat capit kepiting yang cukup besar. Ingat ya, hanya capit! kepitingnya kabur entah ke mana.

Ternyata teman saya tersebut merogoh lubang yang ada di tepi sungai. Dan ternyata lubang tersebut adalah lubang tempat kepiting bersembunyi. Karena capit kepiting tersebut tak kunjung lepas, maka teman saya tersebut mulai panik. Capit kepiting mencapit dengan kuat di jarinya, dan sangat sulit untuk dilepaskan.

Saya baru mengerti, bahwa ternyata sekalipun capitan sudah terputus dari bagian tubuh utama si kepiting, tetapi kekuatan capitannya masih merekat kuat pada obyek yang dicapit.

Coba bayangkan apabila yang tercapit itu jari kamu. Ketika itu kamu sendirian, dan tidak ada orang lain.

Pasti kamu juga bakal super panik, antara menahan sakit, dan menahan rasa takut karena jarimu mau putus. Hehe.

Complicated gak tuh?

Jadi pelajaran dari fenomena capitan kepiting ini adalah, kamu harus berhati-hati ketika memasukkan tanganmu ke dalam sebuah lubang. Karena kita tidak tahu, sebenarnya apa sih yang tersembunyi di dalam lubang tersebut?

Jadi apabila mau sekedar mencoba-coba, maka Waspadalah! Waspadalah!

Solusi Ada pada Diri Sendiri

Untungnya, ada salah satu teman yang sudah mengerti cara melepaskannya. Capit tersebut di gigit dengan gigi geraham hingga terdengar suara gemeretak seperti tulang yang patah. Itulah suara cangkang capit yang retak karena saking kuatnya gigitan gigi geraham teman saya tersebut.

Saya berkata dalam hati “ Wah, ini bocah berani amat melepaskan capit dengan gigitan. Kalau itu capit lepas, kemudian berbalik mencapit bibirnya kan bakal lebih ribet urusan”.

Tetapi Alhamdulillah-nya itu hanya fikiran fiktif belaka. Setelah di gigit, capit itu langsung remuk dan, kekuatan capitan pada jari mulai terlepas. Tetapi ketika capit sudah terlepas, pada bekas jari yang tercapit mengalir darah segar.

Pertanda bahwa bagian kulit jarinya ada yang sobek oleh capitan kepiting yang cukup kuat. Ketika itu dia langsung mengulum jarinya, agar aliran darah pada lukanya dapat segera berhenti. Sebenarnya mengulum luka yang ada pada jari juga cukup berbahaya.

Mengingat jari tersebut belum bersih sepenuhnya, karena hanya dibilas dengan air kali yang kerlihat keruh. Tetapi di masa kami ketika kecil, cara tersebut adalah solusi terbaik untuk menghentikan aliran darah pada luka.

Hikmah yang Bisa Dipetik

Kita harus mengambil hikmah dalam setiap kejadian. Salah satunya yaitu bahwa kita harus tetap berhati-hati ketika dihadapkan pada sebuah lubang.

Entah itu lubang yang diam atau lubang yang bergerak-gerak. Hehe.

Sebagai contoh, lubang yang bergerak yaitu lubang bensin di kendaraan kamu. Kamu harus pastikan lubang tersebut sudah tertutup setelah mengisi bensin, pertamax atau, pertalite di SPBU terdekat. Kalau lupa bisa terjadi kebakaran loh, jangan main-main!

Oke mungkin sampai sini saja ya cerita tentang “Kisah Berburu dan Sepeda Legend”. Tidak perlu di perpanjanglah ya part-nya. Yang penting sudah dapat satu pelajaran yang berharga. Apabila ada salah-salah ketik, atau salah ucap mohon dimaafkan. Ambillah kebaikannya saja, dan tinggalkanlah keburukannya.

Wassalaamu’alaikum Warohmatullaahi Wabarokaatuh.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: