Manajemen Waktu dalam Islam, Cara Mudah untuk Bahagia Dunia Akhirat

Di dalam kehidupan dunia ini, seringkali kita terlalu asyik untuk melakukan pekerjaan yang kurang bermanfaat dan tidak berfaedah. Hal ini seringkali menyita banyak waktu dan membuat kita melalaikan beberapa pekerjaan yang harusnya bisa kita selesaikan lebih cepat.

Padahal waktu terus bergulir dan jarum jam terus bergerak setiap detiknya. Apabila hal itu terus terulang, maka kita akan terbunuh oleh waktu itu sendiri.

Bagaimana tidak, ketika kita mulai menunda sebuah pekerjaan, maka sesungguhnya kita sedang menghendaki agar pekerjaan tersebut tidak kunjung usai, dan pekerjaan yang baru akan semakin menumpuk, sehingga beban pikiran menjadi bertambah.

Padahal kita sendiri tidak tahu, kapan kita akan meninggal dunia. Apakah kiranya sudah cukup bekal yang kita persiapkan untuk perjalanan yang teramat panjang dan tiada batas kelak di akhirat?

Oleh karena itu sebelum terlambat, hendaknya kita sebagai manusia yang diberikan akal oleh Allah ﷻ, dapat mengatur dan membuat manajemen waktu yang paling efektif, baik dalam pekerjaan sehari-hari maupun dalam hal ritual ibadah.

Tentu saja dengan harapan kita dapat meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Di bawah ini akan saya terangkan mengenai beberapa cara melakukan manajemen waktu dalam Islam.

Dan kita berharap dengan cara menerapkan Manajemen waktu menurut Islam ini, Alloh ﷻ. akan memudahkan kita untuk meraih hal yang kita idam-idamkan yaitu kebahagiaan dunia dan akhirat. Aamiin.

Di dalam Al-Qur’an, waktu benar-benar dianggap sebagai sesuatu hal yang sangat penting. Hal itu ditegaskan dengan beberapa surat di dalam Al-Qur’an yang diawali dengan ayat sumpah yang dinisbatkan pada waktu tertentu.

Misalnya kalimat “Demi waktu” di dalam Surat Al-Ashr, dan “Demi waktu ketika matahari naik sepenggalah” di dalam Surat Adh-Dhuhaa. Setiap orang di tuntut untuk selalu menghargai waktu.

Penyesalan memang tidak pernah datang di awal, sehingga kebanyakan manusia lalai terhadap waktu. Namun jangan sampai pula kita menjadi orang yang menyesal di akhir karena banyaknya waktu yang terbuang sia-sia.

Banyak orang berkata” Andaikan aku diberi waktu lebih pasti aku akan mampu menyelesaikan tugas ini”.

Perkataan semacam itu merupakan salah satu bentuk ungkapan penyesalan dari orang-orang yang tidak bisa menghargai waktu. Ketika ada waktu luang mereka lebih memilih untuk berleha-leha.

Sedangkan ketika waktu sudah mulai mendesak, maka dia berkata “Tidak ada waktu lagi untuk mengerjakan hal ini”.

Satu di antara karakteristik waktu adalah cepat berlalu, sebagaimana firman Alloh ﷻ. dalam surat Yunus ayat 45,

Artinya: “Dan (ingatlah) akan hari (yang waktu itu) Allah mengumpulkan mereka. (mereka merasa di hari itu) seakan-akan mereka tidak pernah tinggal (di dunia) melainkan sesaat saja di siang hari (yang waktu itu) mereka saling berkenalan” (QS Yunus: 45).

Banyak orang berpikir bahwa ketika ia melakukan dosa di usia muda, maka ia akan bertaubat untuk menghapus dosa-dosa nya di masa lampau. Namun sejatinya tidak ada seorang pun yang tahu sampai berapa lama lagi ia akan hidup.

Rahasia Manajemen Waktu Rasulallah ﷺ

Setidaknya ada 7 poin rahasia manajemen waktu yang diterapkan oleh Nabi Muhammad ﷺ. Dalam kurun waktu 23 tahun saja, beliau telah mampu membuat perubahan yang besar di Jazirah Arab.

sumber: kaskus.com

Sholat fardhu merupakan salah 1 patokan yang ideal untuk membagi waktu dalam kegiatan sehari-hari. Misalnya ketika adzan shubuh mulai berkumandang di pagi-pagi sekali, maka sebagai muslim yang taat kita harus segera bangun, dan bergegas untuk mendatangi sholat shubuh secara berjamaah.

Hal ini akhirnya akan menguntungkan kita dalam menghadapi hari. Kita akan mempunyai lebih banyak waktu untuk mempersiapkan segala hal yang diperlukan untuk pekerjaan di siang harinya.

2. Pola Pikir Investasi

Maksud dari berpola pikir investasi ialah melakukan manajemen waktu secara perlahan. Persiapkan semuanya dimulai dari hal yang kecil. Ketika berdakwah, Rasulallah ﷺ berproses dengan penyampaian risalah kepada beberapa orang terdekat terlebih dahulu secara sembunyi-sembunyi.

Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada sesuatu keberhasilan yang dihasilkan secara instan. Sama halnya dengan kita, mulailah untuk mempersiapkan segala hal untuk masa depan secara bertahap. Sehingga nantinya kita mempunyai cukup bekal dan memetik kebahagiaan di dunia dan akhirat.

3. Produktivitas Waktu

Di poin ketiga ini, ditekankan betapa pentingnya untuk tetap produktif. Jangan pernah biarkan waktu berlalu secara percuma. Islam merupakan agama yang mengedepankan nilai-nilai produktivitas dalam berbagai hal. Baik produktivitas untuk menghasilkan suatu karya, produktifitas dalam memperbaiki masyarakat, ataupun produktivitas dalam memperbaiki diri sendiri.

Sebagaimana di firmankan oleh Allah ﷻ dalam Surat Al-Insyiroh ayat 7 di bawah ini,

Artinya: “Maka apabila kamu telah selesai dari satu urusan, maka kerjakanlah urusan yang lain” (QS. Al-Insyirah: 7).

Firman Allah ﷻ di atas sangat jelas menerangkan bahwasanya seorang muslim tidak pernah lepas dari produktivitas. Bagi seorang mukmin, waktu adalah sebuah ritme yang tidak pernah kosong, tidak pernah putus dengan aktivitas-aktivitas yang membawa manfaat bagi kebahagiaan dunia dan akhirat.

Di Surat Al-Israa ayat 26-27 Allah ﷻ berfirman:

Artinya: Berikanlah kerabat dekat, orang miskin, dan ibnu sabil hak mereka. Dan jangan sekali-kali berbuat tabzir. Sesungguhnya mubadzir (orang yang suka berbuat tabzir) adalah teman setan.”(QS. Al-Israa : 26-27)

4. Memanfaatkan Setiap Waktu yang Ada

Dari Ibnu Abbas ra. dia berkata, Telah bersabda Rasulullah ﷺ seraya menasehati seseorang:

Jagalah olehmu 5 perkara sebelum datang 5 perkara lainnya. Jagalah masa mudamu sebelum datangnya masa tuamu, jagalah masa sehatmu sebelum datangnya masa sakitmu, jagalah masa kayamu sebelum jatuh miskinmu, jagalah masa lapangmu sebelum datangnya masa sempitmu, dan jagalah masa hidupmu sebelum datangnya kematianmu.” (Mustadrak Hakim).

Hadits di atas sangat ditekankan oleh Rasulallah ﷺ. karena terlalu banyak orang yang merugi karena menyia-nyiakan 5 waktu tersebut.

Padalah 5 waktu tersebut adalah waktu yang sangat berharga di mana kita bisa mendulang pahala sebanyak-banyaknya apabila digunakan dengan baik berlandaskan keimanan.

5. Menjauhi Sikap Menunda-nunda Pekerjaan

Allah ﷻ dan Rasul-Nya membenci sikap gemar menunda-nunda. Baik itu menunda dalam pekerjaan, menunda dalam niat, menunda dalam beribadah, menunda dalam bersedekah, atau menunda dalam hal kebaikan lainnya.
Dalam Surat Ali Imran Allah ﷻ  berfirman:

Artinya: “Dan Bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabb-mu dan mendapatkan surga yang seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.” (Ali Imran : 133)

Artinya: “Maka berlomba-lombalah(dalam berbuat) kebaikan.” (Al Baqarah : 148)

Di dalam Al-Hadits juga banyak dijelaskan sebagaimana yang diriwayatkan oleh Iman Bukhari dan Imam Muslim di bawah ini:

“Bersegeralah kalian beramal shaleh sebelum kedatangan fitnah (ujian) yang seperti potongan malam. Seseorang di pagi hari dalam keadaan mukmin namun di sore harinya menjadi kafir, dan ada orang yang di sore hari dalam keadaan mukmin namun di pagi hari menjadi kafir. Dia menjual agamanya dengan perhiasan dunia.”(HR. Muslim)

“Menunda-nunda melaksanakan kewajiban(bagi yang mampu) termasuk dari kezaliman” (HR. Bukhari)

Mungkin menunda-nunda suatu pekerjaan tidak terlihat berbahaya, tidak masalah, apabila untuk urusan yang kecil saja. Tetapi situasi akan berbeda jauh apabila kita dihadapkan dengan situasi darurat, di mana kita harus membuat sebuah keputusan yang penting secara cepat.

Contohnya ketika ada seseorang yang terkena serangan jantung secara mendadak, tetapi hanya didiamkan saja, tidak kunjung di bawa ke dokter untuk di beri pertolongan pertama. Tentu saja hal ini akan menimbulkan akibat yang fatal.

6. Cepat Tetapi tidak Tergesa-gesa (Cekatan)

Aisyah dan Ali bin Abi Thalib pernah berkata bahwa berjalannya Rasulullah ﷺ itu cepat, seolah-olah beliau tidak menjejakkan kakinya di tanah. Beliau melangkah dengan cepat dengan tempat tujuan yang pasti.

Kecepatan berjalan memang menggambarkan seberapa cepat seseorang melakukan sebuah pekerjaan. Tetapi harus dibedakan antara cekatan dengan tergesa-gesa ya, karena keduanya mempunyai makna yang berbeda. Sebagaimana sabda Rasulallah ﷺ:
“karena sifat tergesa-gesa itu berasal dari setan.” (HR Anas bin Malik)

Seseorang yang tergesa-gesa seringkali berfikir kurang matang. Biasanya semua itu terjadi karena perhitungan yang buruk dan tidak menutup kemungkinan karena perhitungan waktu yang terlalu mepet. Akhirnya hal ini akan berkorelasi dengan akibat ditunda-tundanya suatu pekerjaan.

7. Evaluasi (Muhasabah Diri) Secara Berkesinambungan

Di dalam manajemen waktu, evaluasi berperan penting bagi keberhasilan rencana yang sudah dirancang sedemikian rupa. Dengan melakukan evaluasi, kita akan tahu pekerjaan apa saja yang sudah mampu kita lakukan, dan kekurangan apa saja yang belum mampu kita selesaikan dan harus kita benahi.

Sebagaimana perintah Allah ﷻ dalam surat Al-Hasyr ayat 18:

Artinya: “Hai orang orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri meperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (Al Hasyr: 18)

Di jelaskan pula dalam Al-Hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Hibban yang artinya:

“Orang yang berakal dan dapat mengendalikan akalnya, seharusnya memiliki empat waktu, yaitu pertama waktu untuk bermunajat kepada Allah, kedua waktu untuk mengintrospeksi diri, ketiga waktu untuk memikirkan ciptaan Allah ﷻ , keempat waktu untuk memenuhi kebutuhan jasmani dari minuman dan makan” (HR. Ibnu Hibban)

Dengan menerapkan evaluasi pada manajemen waktu, maka diharapkan kita dapat melakukan peningkatan-peningkatan dan perbaikan-perbaikan di setiap harinya. Sehingga kualitas pekerjaan dan kualitas ibadah kita-pun akan semakin baik.

Umar bin khattab pernah berkata:

حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا، وَزِنُوها قَبْلَ أَنْ تُوزَنُوا، وَتَأهَّبُوا لِلْعَرْضِ الْأَكْبَرِ

yang artinya: “”Hendaklah kalian menghisab diri kalian sendiri sebelum kalian dihisab, dan hendaklah kalian menimbang diri kalian sendiri sebelum kalian ditimbang, dan bersiap-siaplah untuk kedatangan hari besar ditampakkannya amal”

 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: