Kisah Berburu Nganu dan Sepeda Legend Part. 2

Halo guys, waktu cepat berlalu ya.

Perasaan baru kemarin saya membuat artikel mengenai cerita masa lalu saya. Tetapi ternyata sudah kurang lebih 86.400 detik selisih waktu dari postingan saya yang lalu.

Baiklah mari kita lanjutkan cerita berburu saya, yang sempat terbengkalai sekian lama karena kesibukan saya yang padat merayap. Hehe… seperti di kota-kota besar saja ya, kendaraannya berjalan dengan padat merayap.

Terbongkarnya Rahasia Besar

Selagi ada waktu, maka akan saya lanjutkan petualangan masa lalu itu. Yang belum sempat membaca petualangan menakjubkan

saya di masa lalu bisa lihat di sini http://windowsnesia.com/kisah-berburu-dan-sepeda-legend/

sumber: derbycitylitho.com

Setelah persiapan kami dirasa cukup. Maka kami langsung berangkat bersama-sama dengan bersepeda.

Baik mari kita bongkar, perburuan rahasia ini.

Kami bergerak menuju pantai dengan barisan sepeda yang tak tertata rapi. Jadi latar belakang perburuan kami adalah di pantai.

Sudah bisa menebak kira-kira saya akan berburu apa?

Mungkin sudah ada sedikit gambaran ya mengenai target buruan kami. Ya, benar sekali. Kami akan berburu ikan yang ada di muara sungai. Tepatnya di titik pertemuan antara sungai dan laut. Di mana tepi sungai tersebut biasanya di tumbuhi pohon bakau.

Perjalanan menuju TKP

Jalur perjalanan menuju pantai terasa berliku, di mana kami harus melewati jalan bebatuan sepanjang  sekitar 1 km.

Karena saking sulitnya medan yang hendak dilalui. Sepeda yang kami kendarai seolah menangis. Jalan menuju pantai adalah jalan umum di mana biasanya petani menuju ke persawahan. Rencananya jalan itu akan di aspal.

sumber: metalbalbut.wordpress.com

Tetapi ketika itu hanya batu-batu yang ditata dan belum ada realisasi selama beberapa tahun. Karena keterbatasan anggaran dari pemerintah.

Pertanian di Kampungku

Di sepanjang perjalanan, kami disuguhkan dengan dua jenis model pertanian. Di sebelah kanan terlihat kebun-kebun milik para petani. Kebun tersebut ditanami berbagai macam tanaman seperti misalnya pohon mahoni, pohon kakao, pohon durian, pohon rambutan, pohon akasia, hingga pohon sengon.

Sedangkan di sebelah kiri kami, terbentang persawahan padi ratusan hektar milik para petani. Sesekali kami berpapasan dengan petani yang sedang berjalan kaki menuju sawahnya. Tampak juga petani yang sedang menyiangi rumput di tengah sawah.

sumber: cauchymurtopo.wordpress.com

Ada pula yang sedang menanam bibit padi atau yang sering disebut tandur, singkatan dari tanam mundur. Beberapa petani sibuk berteriak-teriak berusaha untuk mengusir burung pipit. Kawanan burung pipit biasanya menyambangi sawah para petani untuk mencari makan.

Biji padi merupakan makanan yang lezat dan melimpah bagi kawanan pipit. Bekas patukan burung pipit akan menyebabkan tanaman padi tampak jelek atau dalam bahasa jawa disebut ‘preges’ . Oleh karena itu, para petani berusaha sekuat tenaga agar tanaman padi mereka tak tersentuh sedikit-pun oleh burung pipit yang tengah bergerilwa mengincar santapan utamanya.

Jalan Istimewa menuju Pantai

Perjalanan menuju pantai masih berlanjut. Kali ini kami mulai memasuki jalan setapak di tengah-tengah persawahan. Jalan sedikit menurun, tetapi juga harus tetap berhati-hati. Apabila salah perhitungan sedikit.

Kami bisa saja terperosok masuk ke sawah bersama sepeda yang kami kendarai. Yah, walaupun sawah itu tidak terlalu dalam. Tetapi tetap saja apabila terperosok, badan kami bisa seperti piscok (pisang coklat) karena terkontaminasi lumpur yang mahadahsyat di sekujur tubuh.

sumber: kabarbisnis.com

Di tengah persawahan juga terdapat sungai kecil sebagai saluran irigasi ke sawah-sawah di sekitarnya. Kami harus melewatinya, karena kebetulan jalan kami juga dilintasi oleh saluran air tersebut. Hanya terdapat jembatan yang terbuat dari bambu dan kayu. Jembatan tersebut kecil dan sangat sederhana.

Oleh karena itu, kami harus fokus untuk dapat melewatinya. Alhamdulillah, karena rombongan kami sudah dalam tingkatan master dalam hal seberang-menyeberang. Maka kami tidak menjumpai masalah yang berarti, ketika menyeberang. hehe.

Semuanya berhasil menaklukkan sungai tersebut dengan lancar. Dan menurut saya, patut-lah ya, apabila usaha mereka saya apresiasi dengan status nilai cum laude.

sumber: kayuhanpedal.com

Usai menyeberangi sungai, kami dihadapkan dengan jalur tanjakan. Jalur tersebut masih di tengah persawahan. Tetapi kami harus mampu menaklukannya. Karena itu adalah tanjakan terakhir dalam perjalanan kami kali ini.

Kami berusaha mengayuh sepeda dengan sekuat tenaga. Kami mempercepat kayuhan sepeda untuk dapat melewati tanjakan terakhir itu. Dan Alhamdulillah tidak ada perlawanan yang berarti.

Tidak ada kaki yang patah, dan tidak ada pula korban masuk sawah beserta sepedanya. Kami melanjutkan perjalanan melewati jalur setapak. Tetapi kali ini jalurnya cenderung landai, dan tidak ada tanjakan yang berarti.

Jalur tersebut diapit oleh sawah di sebelah kiri, dan sungai di sebelah kanan. Sungai ini sering disebut juga dengan kali Jongor. Kali jongor merupakan sungai air tawar yang mengelilingi gunung Jongor. Lebarnya sekitar 1-2 m. Gunung Jongor terletak di sebelah kanan jalan yang kami lalui.

penampakan gunung jongor dengan sumber: google map

Gunung Jongor

Sebenarnya Gunung Jongor bukanlah gunung yang sebenarnya, karena ketinggiannya tidak lebih dari 100 meter di atas permukaan laut (mdpl), bahkan tidak lebih dari 50 meter. Di sebut gunung karena memang disitulah satu-satunya daratan yang paling tinggi di kawasan itu.

Gunung Jongor terhubung dengan gunung Piting. atau orang kampung juga sering menyebutnya dengan sebutan gunung Peteng. Terserah mereka mau menyebut apa. Sebenarnya antara gunung Jongor dan gunung Piting, tidak tampak perbedaan pemisah yang jelas.

Karena memang kedua gunung tersebut terlihat satu kesatuan tanpa terpisah. Gunung tersebut berbentuk memanjang dari arah selatan  ke utara. Lebar gunung sekitar 100-300 m. Sedangkan bagian selatan gunung langsung bergabung menjadi satu dengan hutan yang ada di sebelah timur kampung kami.

Hal ini menyebabkan panjang gunung tidak diketahui pasti. Gunung Jongor biasanya digunakan untuk menyebut bukit di bagian selatan. Sedangkan gunung Piting identik dengan bagian bukit yang ada di sebelah utara. Yaitu bagian yang lebih dekat ke laut utara.

Jarak antara gunung Piting dengan laut utara sekitar 300-500 m. Sudah tidak terlalu jauh bukan? Karena memang jarak antara kampung kami menuju laut utara hanya sekitar 1- 2 km. Jadi wajar ya, kalau di semasa kecil. Kami seringkali bermain ke laut. Ya, maksudnya di pantainya, bukan ke tengah laut.

                                                                    sumber: google map

Kami hanya memerlukan waktu sekitar 15 menit, untuk mencapai pantai dengan bersepeda. Sebenarnya perjalanan bisa lebih singkat apabila jalan akses utama menuju ke laut sudah dibenahi. Namun hingga sekarang, jalan yang berhasil di aspal baru tercapai separuhnya saja.

Dari keseluruhan jalan yang telah di targetkan, separuhnya atau sekitar 1 km masih berbentuk jalan setapak yang apabila ketika musim penghujan bisa sangat becek dan licin. Hal ini masih menjadi PR bagi instansi terkait. Mengingat ini adalah jalan akses utama menuju ke laut, dan juga ke persawahan.

Harapannya…

Tetapi sebagai manusia, kami tetap harus bersyukur kepada Allah. Karena sudah terlalu banyak nikmat yang sudah diberikan. Dibandingkan sedikit masalah yang kami hadapi ini. Semoga peningkatan dan perbaikan yang telah diusahakan akan selalu berlanjut secara berkesinambungan.

Hal ini akan mendorong dan mempermudah kinerja bagi para petani. Akses yang mudah, akan menekan biaya pengangkutan hasil pertanian. Sehingga diharapkan penghasilan petani akan lebih meningkat, yang kemudian dapat dialokasikan untuk pengembangan usaha pertaniannya.

Baiklah, karena waktunya terbatas, jadi sepertinya saya harus membuat cerita perburuan saya ini hingga part ke 3. Sebenarnya membahas jalan saja, memerlukan pembahasan yang lama dan mendalam. Namun karena keterbatasan waktu.

Maka saya cukupkan dulu, akan kita lanjutkan lagi di Kisah Berburu Nganu dan Sepeda Legend Part. 3 yang akan datang.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: